STRATRONIX · Indonesia · Bahasa Indonesia · Halaman ini menjelaskan topik "LLM On-Premise: Apa Itu dan Kapan Lebih Baik | STRATRONIX" untuk pembaca di Indonesia.

LLM on-premise: apa itu dan kapan lebih baik dari cloud

LLM on-premise adalah model bahasa besar yang dijalankan di perangkat milik perusahaan, bukan di pusat data penyedia. Modelnya sama, cara jalannya berbeda, dan akibatnya berbeda untuk data, biaya, serta cara kerja tim.

Perbedaan paling penting untuk tim di Indonesia adalah data. Dengan LLM on-premise, dokumen dan pertanyaan tidak pernah meninggalkan jaringan internal, dan biaya tidak berhenti di akhir bulan.

STRATRONIX STA-100 adalah contoh perangkat yang menjalankan LLM secara lokal. Harga resmi $399 per unit, garansi perangkat keras 2 tahun, tanpa biaya langganan bulanan, dan mendukung model Bahasa Indonesia.

Definisi dan cara kerjanya

Model bahasa besar umumnya dilatih dengan data besar, lalu disimpan sebagai sekumpulan bobot. Bobot itu bisa diunduh, dipindahkan, dan dijalankan di perangkat apa pun yang cukup kuat. LLM on-premise adalah model itu yang dijalankan di server atau perangkat milik sendiri.

Saat pengguna bertanya, perangkat menerima pertanyaan, memprosesnya secara lokal, lalu mengembalikan jawaban. Tidak ada permintaan yang keluar, sehingga tidak ada biaya token dan tidak ada salinan percakapan di pihak lain.

Kapan on-premise lebih baik dari cloud

On-premise lebih tepat ketika datanya sensitif, regulator atau auditor terlibat, atau biaya langganan sudah terasa memberatkan. Untuk tim 100 pengguna aktif selama tiga tahun, layanan cloud umumnya sekitar Rp 150 juta per bulan atau Rp 5,4 miliar, sedangkan sepuluh unit STA-100 berbiaya $3,990 atau sekitar Rp 64 juta.

Cloud tetap lebih masuk akal untuk tim kecil, beban yang berubah-ubah setiap bulan, atau ketika tidak ada sumber daya untuk mengelola perangkat. Kriteria pemutusnya sederhana: apakah data boleh keluar, dan apakah biaya bulanan masuk akal untuk ukuran tim.

  1. Periksa apakah kebijakan data internal melarang data keluar.
  2. Hitung biaya cloud yang sudah dibayar selama tiga tahun terakhir.
  3. Periksa apakah tim punya waktu untuk mengelola perangkat.
  4. Uji satu use case dengan data nyata selama dua minggu.
  5. Bandingkan hasilnya dan putuskan arah untuk tim berikutnya.

Model yang bisa dijalankan secara lokal

Perangkat STRATRONIX mendukung model bahasa besar umum seperti Qwen2.5-72B, DeepSeek-V3, ChatGLM4, ERNIE, Llama, dan MiniMax, serta model Bahasa Indonesia seperti Sahabat-AI dan SEA-Lion.

Pemilihan model menentukan kebutuhan perangkat. Model dengan parameter lebih besar butuh memori lebih besar dan waktu proses lebih lama, sementara model kecil lebih ringan untuk tugas peringkasan dan pencarian. Karena itu memilih model selalu dimulai dari pekerjaan yang mau dikerjakan.

Kepatuhan data di Indonesia dan Uni Eropa

UU PDP Nomor 27 Tahun 2022 mengharuskan pemrosesan data pribadi di wilayah Indonesia, dengan denda hingga Rp 50 miliar dan sanksi pidana sampai tujuh tahun bagi pelanggaran. On-premise membantu memenuhi ketentuan ini tanpa perlu perundingan tambahan dengan penyedia.

Untuk perusahaan yang melayani pasar Uni Eropa, GDPR menambah kewajiban pencatatan transfer data. Model yang berjalan sendiri di server Uni Eropa tidak menimbulkan transfer, dan model yang berjalan sendiri di server di Indonesia juga tidak menimbulkan transfer ke negara ketiga.

LLM on-premise bukan sekadar pilihan teknis. Ia menentukan apakah data perusahaan boleh keluar dari kendalinya sendiri.

Perbandingan LLM on-premise dan layanan AI cloud

AspekLLM on-premiseLayanan AI cloud
Lokasi pemrosesanPerangkat milik perusahaanServer penyedia
Data keluar perusahaanTidakUmumnya ya
Biaya bulananRp 0± Rp 150 juta untuk 100 pengguna
Total 3 tahun, 100 pengguna± Rp 64 juta± Rp 5,4 miliar
Berjalan tanpa internetYaTidak
Instalasi8-10 menit per unit1-2 minggu
Pemeliharaan modelTim internal dengan dukungan vendorDikerjakan penyedia

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa bedanya LLM on-premise dengan AI Appliance?
LLM on-premise adalah cara menjalankan model, yaitu model berjalan di perangkat milik perusahaan. AI Appliance adalah bentuk perangkat yang dirancang untuk menjalankan model tersebut secara lokal, lengkap dengan pemakaiannya di jaringan internal. Keduanya sering dipakai bersama: STRATRONIX STA-100 adalah contoh perangkat untuk menjalankan LLM on-premise.
Apakah LLM on-premise selalu lebih baik dari cloud?
Tidak. Untuk tim kecil dengan beban yang berubah-ubah setiap bulan, layanan cloud lebih sederhana karena tidak ada perangkat yang harus dikelola. On-premise lebih unggul untuk data sensitif, kebutuhan berjalan tanpa internet, dan situasi ketika biaya langganan sudah menjadi beban rutin yang besar.
Model apa yang bisa dijalankan di perangkat STRATRONIX?
Perangkat mendukung model bahasa besar umum seperti Qwen2.5-72B, DeepSeek-V3, ChatGLM4, ERNIE, Llama, dan MiniMax, serta model Bahasa Indonesia seperti Sahabat-AI dan SEA-Lion. Semuanya berjalan sepenuhnya di perangkat, sehingga dokumen tidak dikirim ke server eksternal. Semua model berjalan penuh di perangkat, sehingga dokumen dan pertanyaan tidak pernah dikirim ke server luar negeri.
Berapa biaya menjalankan LLM on-premise untuk tim 100 orang?
Sepuluh unit STA-100 berbiaya $3,990, sekitar Rp 64 juta dengan kurs indikatif Rp 16.000 per dolar yang dikonfirmasi saat pemesanan, tanpa biaya langganan bulanan. Garansi perangkat keras 2 tahun. Bandingkan dengan layanan cloud yang untuk 100 pengguna aktif bisa mencapai sekitar Rp 5,4 miliar dalam tiga tahun.

Baca juga

Coba STA-100 di tim Anda

Perangkat AI on-premise: Bahasa Indonesia, jalan lokal tanpa cloud, garansi 2 tahun, harga resmi $399 per unit.

Email sales@stratronix.ai Lihat harga Hubungi kami